BIOGRAFI KH.MUHAMMAD ABDUL GHUFRON ALBANTANI
BIOGRAFI KH. M. ABDUL GHUFRON AL-BANTANI
Nama Asal : Iyus Sugirman
Nama Kun-yah : M. Abdul Ghufron Al-Bantani Asy-Syafi’i A. M. Abdul Ghufron
M. Abdul Ghufron adalah Nama kun-yah yang diberikan oleh gurunya Abuya Mama Armin ketika beliau kholwat di makam Syekh Abdul Qodir Al-Jailani di Baghdad selama 40 Hari 40 Malam. B. Al-Bantani
Al-Bantani adalah tempat lahirnya ilmu ketika beliau berguru kepada Abuya Mama Armin karena perjalanan hidup beliau di awali dari daerah Cibuntu Pandegelang Banten. C. Asy-Syafi’i
Asy-Syafi’i adalah sebuah penisbatan Nama pada Madzhab Syafi’I yang di dirikan oleh Imam Muhammad bin Idris bin Syafi’i pada tahun 150-204 H/767-820 M. 1. KELAHIRAN Beliau adalah putra ke Dua dari pasangan suami istri Bapak H. Endang Mustofa dan ibu Hj. suntari putri dari Ibu Ade dan Aki Isak, adapun ibu Ade adalah keturunan ke 7 dari eyangnya yang bernama Raden Ardi Winata dan Nyai Abu Sarminah dan nasabnya sampai ke Prabu Siliwangi melalui Sultan Hasanuddin Banten sampai kepada Raden Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati. Sedangkan Aki Isa’ adalah keturunan dari Mbah Sajidan yang pernah berguru kepada sunan bonang yakni putranya sunan Ampel. Beliau diberi Nama Iyus Sugirman, beliau dilahirkan di Daerah Cibadak-Bandung Jawa Barat pada Hari Sabtu, 25 Desember 1963 M. bertepatan pada Tanggal 07 Rajab 1384 H. 2. MASA KECIL Ketika Beliau dilahirkan, Beliau tidak pernah merasakan Air Susu Ibunya, karena memang ibunda pada saat itu sedang dalam keadaan sakit parah, sehingga di asuh oleh neneknya yang bernama Ibu Iyah ( kakak dari Ibu Ade ), istri dari Raden Uko Sukma Wijaya, leles-Garut. Semasa kecil Nama panggilan beliau adalah Raden Abig. Dipanggil demikian karena sekujur tubuh baliu ditumbuhi bulu- bulu yang halus. Kata Abig diambil dari istilah sunda yang asalnya adalah Jabrik yang artinya Gondrong. Beliau di sebut Raden karena beliau masih keturunan darah biru, walaupun demikian kehidupan beliau tidak selayaknya seperti kehidupan orang-orang yang keturunan darah biru pada masa itu. Kehidupan beliau penuh dengan keprihatinan, karena belum pernah merasakan kasih sayang dari ke dua orang tuanya, beliau ditinggalkan ibunya menuju sang Kholiq pada saat beliau masih usia balita, sehingga beliau belum sempat melihat wajah ibunya. Selanjutnya dalam masa kanak-kanak yang selayaknya sudah masuk jenjang pendidikan SR (Sekolah Rakyat) dimasa itu, justru beliau enggan bahkan beliau sering hilang dari rumahnya entah pergi kemana, tapi banyak sekali keanehan yang muncul dari diri beliau yang diluar akal (Khowariqul ‘Adat). Dikisahkan, ketika beliau berumur 10 Tahun, beliau sering kali hilang dari rumah dan datang secara tiba-tiba dengan menggunakan pakaian Adat Jawa atau disebut pakaian selayaknya Pangeran. Yang tujuannya untuk mengobati orang-orang yang sakit di daerahnya, dan setelah usai mengobati beliau kemudian hilang kembali entah kemana. Ada sumber lain menceritakan, beliau diusir dari rumahnya oleh semua keluarganya karena kanakalannya yang tidak mau sekolah dan tidak mau menuruti nasehat dari keluarga besarnya (bandel). Tapi anehnya selama beliau diusir dari rumahnya, beliau sering bergaul dengan orang-orang cina yang beragama Kong Hu Cu, bernama Engkong Bebeng. Beliau di beri wejangan oleh Engkong Bebeng “Yus kamu tidak dipercaya lagi oleh keluarga, hidup kamu cuma ada dua pilihan, yaitu jika kamu ingin hidup dengan menuruti hawa nafsumu maka jadilah seorang Penjahat sampai akhir hayatmu, dan jikalau kamu ingin hidup baik dan mengerti hakikatnya kehidupan maka carilah guru yang bisa mengenalkan Jasad, Hati dan Ruhmu.”setelah mendapat wejangan dari engkong, beliau kemudian pulang kerumah untuk pamitan dan meminta maaf dari semua kesalahan beliau serta minta Do’a
Restu untuk meneruskan perjalanan hidupnya. 3. MENCARI GURU SEJATI Ketika beliau menginjak usia 12 Tahun, beliau meninggalkan kampung halamannya dengan berjalan kaki tanpa membawa uang sepeserpun untuk mencari guru sejatinya, sehingga sampai ke daerah Banten dan bertemu dengan ulama besar yang terkenal sebutannya dengan ulama Hikmah dan ulama Thoriqoh bernama KH. Hasan Amin ( Abuya Mama Armin ) Cibuntu Pandeglang Banten. Selama berguru kepada Abuya Mama Armin beliau tidak pernah diajarkan pelajaran- pelajaran layaknya santri-santri lainnya, separti belajar Kitab Kuning, Al-Qur’an, Hadist dsb. Akan tetapi beliau di perintah untuk Khidmah ( Melayani sang Kyai ), setiap hari beliau disuruh untuk menunggu sandal Kyai ketika sedang melaksanakan Sholat dan mengantarkan kemana saja pada saat Kyai itu pergi, bahkan sering sekali disuruh menunggu di depan pintu kamar Kyai sampai keluar.
Setelah dua tahun lamanya beliau berguru, kamudian beliau dikubur hidup-hidup selama 40 hari 40 malam sebagai permulaan pendidikan Ruhaninya untuk mengenal jati diri dan Robbnya. Setelai usai pendidikan pertamanya, lalu beliau diperintahkan oleh gurunya untuk meneruskan perjalanan hidup dengan cara musafir ( berjalan kaki ) hingga sampai ke penjuru dunia, sebelum beliau meninggalkan daerah Banten beliau di baiat oleh Abuya Mama Armin dengan Ijazah Thoriqoh Qodiriyyah Wanaqsabandiyyah dan dipesani oleh sang Guru “Sebelum kamu mengenal Jati dirimu dan bisa menyatukan umat islam khususnya di Nusantara jangan sekali-kali kamu kembali ke banten, karena perjalananmu ini adalah makna rahasia Thoriqoh Qodiriyyah Wanaqsabandiyyah yang tujuan untuk menyatukan Umat manusia, Jasad, Hati dan Ruh.” 4. GURU-GURU BELIAU SELAMA MUSAFIR
1. KH. Hasan Amin ( Abuya Mama Armin) Banten
2. KH. Ahmad Syadzili ( Mama Cikisik ) Tasikmalaya
3. KH. Abdulloh Haq Nuh ( Aang Nuh ) Cianjur
4. KH. Zain Abdussomad (Aang Baden ) Cianjur
5. KH. Abdul Karim ( Mbah Makarim ) Boyolali
6. KH. Shiroj ( Mbah Shiroj ) Kertosuro
7. KH. Dalhar. Watu Congol Magelang 8. KH. Mukhlis, Batu Ampar Madura
9. KH. Arwani. Kudus
10. KH. Abdul Hamid. Pasuruan
11. KH. Abdullah Azza (Pak Azza) Lamongan
12. KH. Mbah Juned. Ngimbang Lamongan
13. KH. Ahmad Khudlori ( Mbah Dlori ) Gersik Dan masih banyak guru-guru beliau yang tidak di sebutkan di lembaran ini baik dari Nusantara
ataupun Luar Negri seperti Makkah, Madinah, Mesir, Baghdad, Cina dsb. 5. MERINTIS PESANTREN Selama perjalanan musafir yang lamanya 21 Tahun yang diawali dari tahun 1978 sampai tahun 1998, lalu sampailah beliau di Ampel Denta Surabaya dan beliau menikahi seorang wanita yang berasal dari Madura bernama Ibu Nyai Hj. Hafijah. Kemudian pada Tanggal 09 Januari 1999, beliau mendirikan Pesantren kecil dan diberi nama Pesantren “BENGKEL UNIQ TOMBO ATI”yang lebih di kenal dengan sebutan THE BENK UNIQ yang dulu
diberi arti Universitas Qur’an dengan Logo berlafalkan Yasin, beliau tidak memungut biaya sepeserpun dari para santrinya. pada saat itu para santrinya terdiri dari kalangan musafir, orang melarat , Yatim Piatu dan orang gelandangan yang ingin memahami Al- Qur’an baik Tersurat, Tersirat ataupun Sirr. tetapi didalam masa pengajaran beliau kepada santri-santrinya banyak sekali fitnahan, Cacian
dan Hinaan, bahkan lebih ironisnya lagi semua masyarakat bersepakat ingin membakar dan menghancurkan Pesantren karena dianggap Pesantren sesat. Karena masyarakat melihat Para santrinya berpakaian Compang-camping dan amburadul seperti gelandangan dan tidak seperti gholibnya para santri di Pesantren- pesantren lain yang notabene selalu berpakaian rapi dan mengkaji Kitab-kitab kuning. Karana pada saat itu beliau masih mendidik ketauhidan yang bersikap sederhana dan bersahaja, sedangkan para santri di wajibkan membaca Al-Qur’an tiap pukul 10 malam dan di teruskan dengan Sholawatan dan
Sholat malam Berjamaah yang di akhiri dengan membaca surat Yasin sebanyak 41 kali. Singkat cerita dengan seiringnya waktu, walaupun banyak rintangannya, Ponpes kecil ini tetap berdiri tegak sehingga santrinya bertambah banyak hingga beliau mengontrak rumah-rumah untuk di jadikan tempat lembaga
pendidikan, kemudian Pondok Pesantren “BENGKEL UNIQ TOMBO ATI” diganti dengan Pondok Pesantren “UNIQ” yang mempunyai arti ULINNURIL ISLAMIL QOYYIDI ( Orang-orang yang mempunyai cahaya Islam yang Kokoh ). Pada tahun 2004 beliau memulai menerapkan pendidikan kitab kuning dengan metode Salafussolih yang tujuannya ingin mengangkat kembali ajaran Salafussolih di era Modern ini.
Untuk lebih jelasnya perjalanan hidup beliau beserta karomahnya, bisa dilihat dalam kitab TARJAMATUSYAIKH (Riwayat Hidup) KH. M. Abdul Ghufron.
Nama Kun-yah : M. Abdul Ghufron Al-Bantani Asy-Syafi’i A. M. Abdul Ghufron
M. Abdul Ghufron adalah Nama kun-yah yang diberikan oleh gurunya Abuya Mama Armin ketika beliau kholwat di makam Syekh Abdul Qodir Al-Jailani di Baghdad selama 40 Hari 40 Malam. B. Al-Bantani
Al-Bantani adalah tempat lahirnya ilmu ketika beliau berguru kepada Abuya Mama Armin karena perjalanan hidup beliau di awali dari daerah Cibuntu Pandegelang Banten. C. Asy-Syafi’i
Asy-Syafi’i adalah sebuah penisbatan Nama pada Madzhab Syafi’I yang di dirikan oleh Imam Muhammad bin Idris bin Syafi’i pada tahun 150-204 H/767-820 M. 1. KELAHIRAN Beliau adalah putra ke Dua dari pasangan suami istri Bapak H. Endang Mustofa dan ibu Hj. suntari putri dari Ibu Ade dan Aki Isak, adapun ibu Ade adalah keturunan ke 7 dari eyangnya yang bernama Raden Ardi Winata dan Nyai Abu Sarminah dan nasabnya sampai ke Prabu Siliwangi melalui Sultan Hasanuddin Banten sampai kepada Raden Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati. Sedangkan Aki Isa’ adalah keturunan dari Mbah Sajidan yang pernah berguru kepada sunan bonang yakni putranya sunan Ampel. Beliau diberi Nama Iyus Sugirman, beliau dilahirkan di Daerah Cibadak-Bandung Jawa Barat pada Hari Sabtu, 25 Desember 1963 M. bertepatan pada Tanggal 07 Rajab 1384 H. 2. MASA KECIL Ketika Beliau dilahirkan, Beliau tidak pernah merasakan Air Susu Ibunya, karena memang ibunda pada saat itu sedang dalam keadaan sakit parah, sehingga di asuh oleh neneknya yang bernama Ibu Iyah ( kakak dari Ibu Ade ), istri dari Raden Uko Sukma Wijaya, leles-Garut. Semasa kecil Nama panggilan beliau adalah Raden Abig. Dipanggil demikian karena sekujur tubuh baliu ditumbuhi bulu- bulu yang halus. Kata Abig diambil dari istilah sunda yang asalnya adalah Jabrik yang artinya Gondrong. Beliau di sebut Raden karena beliau masih keturunan darah biru, walaupun demikian kehidupan beliau tidak selayaknya seperti kehidupan orang-orang yang keturunan darah biru pada masa itu. Kehidupan beliau penuh dengan keprihatinan, karena belum pernah merasakan kasih sayang dari ke dua orang tuanya, beliau ditinggalkan ibunya menuju sang Kholiq pada saat beliau masih usia balita, sehingga beliau belum sempat melihat wajah ibunya. Selanjutnya dalam masa kanak-kanak yang selayaknya sudah masuk jenjang pendidikan SR (Sekolah Rakyat) dimasa itu, justru beliau enggan bahkan beliau sering hilang dari rumahnya entah pergi kemana, tapi banyak sekali keanehan yang muncul dari diri beliau yang diluar akal (Khowariqul ‘Adat). Dikisahkan, ketika beliau berumur 10 Tahun, beliau sering kali hilang dari rumah dan datang secara tiba-tiba dengan menggunakan pakaian Adat Jawa atau disebut pakaian selayaknya Pangeran. Yang tujuannya untuk mengobati orang-orang yang sakit di daerahnya, dan setelah usai mengobati beliau kemudian hilang kembali entah kemana. Ada sumber lain menceritakan, beliau diusir dari rumahnya oleh semua keluarganya karena kanakalannya yang tidak mau sekolah dan tidak mau menuruti nasehat dari keluarga besarnya (bandel). Tapi anehnya selama beliau diusir dari rumahnya, beliau sering bergaul dengan orang-orang cina yang beragama Kong Hu Cu, bernama Engkong Bebeng. Beliau di beri wejangan oleh Engkong Bebeng “Yus kamu tidak dipercaya lagi oleh keluarga, hidup kamu cuma ada dua pilihan, yaitu jika kamu ingin hidup dengan menuruti hawa nafsumu maka jadilah seorang Penjahat sampai akhir hayatmu, dan jikalau kamu ingin hidup baik dan mengerti hakikatnya kehidupan maka carilah guru yang bisa mengenalkan Jasad, Hati dan Ruhmu.”setelah mendapat wejangan dari engkong, beliau kemudian pulang kerumah untuk pamitan dan meminta maaf dari semua kesalahan beliau serta minta Do’a
Restu untuk meneruskan perjalanan hidupnya. 3. MENCARI GURU SEJATI Ketika beliau menginjak usia 12 Tahun, beliau meninggalkan kampung halamannya dengan berjalan kaki tanpa membawa uang sepeserpun untuk mencari guru sejatinya, sehingga sampai ke daerah Banten dan bertemu dengan ulama besar yang terkenal sebutannya dengan ulama Hikmah dan ulama Thoriqoh bernama KH. Hasan Amin ( Abuya Mama Armin ) Cibuntu Pandeglang Banten. Selama berguru kepada Abuya Mama Armin beliau tidak pernah diajarkan pelajaran- pelajaran layaknya santri-santri lainnya, separti belajar Kitab Kuning, Al-Qur’an, Hadist dsb. Akan tetapi beliau di perintah untuk Khidmah ( Melayani sang Kyai ), setiap hari beliau disuruh untuk menunggu sandal Kyai ketika sedang melaksanakan Sholat dan mengantarkan kemana saja pada saat Kyai itu pergi, bahkan sering sekali disuruh menunggu di depan pintu kamar Kyai sampai keluar.
Setelah dua tahun lamanya beliau berguru, kamudian beliau dikubur hidup-hidup selama 40 hari 40 malam sebagai permulaan pendidikan Ruhaninya untuk mengenal jati diri dan Robbnya. Setelai usai pendidikan pertamanya, lalu beliau diperintahkan oleh gurunya untuk meneruskan perjalanan hidup dengan cara musafir ( berjalan kaki ) hingga sampai ke penjuru dunia, sebelum beliau meninggalkan daerah Banten beliau di baiat oleh Abuya Mama Armin dengan Ijazah Thoriqoh Qodiriyyah Wanaqsabandiyyah dan dipesani oleh sang Guru “Sebelum kamu mengenal Jati dirimu dan bisa menyatukan umat islam khususnya di Nusantara jangan sekali-kali kamu kembali ke banten, karena perjalananmu ini adalah makna rahasia Thoriqoh Qodiriyyah Wanaqsabandiyyah yang tujuan untuk menyatukan Umat manusia, Jasad, Hati dan Ruh.” 4. GURU-GURU BELIAU SELAMA MUSAFIR
1. KH. Hasan Amin ( Abuya Mama Armin) Banten
2. KH. Ahmad Syadzili ( Mama Cikisik ) Tasikmalaya
3. KH. Abdulloh Haq Nuh ( Aang Nuh ) Cianjur
4. KH. Zain Abdussomad (Aang Baden ) Cianjur
5. KH. Abdul Karim ( Mbah Makarim ) Boyolali
6. KH. Shiroj ( Mbah Shiroj ) Kertosuro
7. KH. Dalhar. Watu Congol Magelang 8. KH. Mukhlis, Batu Ampar Madura
9. KH. Arwani. Kudus
10. KH. Abdul Hamid. Pasuruan
11. KH. Abdullah Azza (Pak Azza) Lamongan
12. KH. Mbah Juned. Ngimbang Lamongan
13. KH. Ahmad Khudlori ( Mbah Dlori ) Gersik Dan masih banyak guru-guru beliau yang tidak di sebutkan di lembaran ini baik dari Nusantara
ataupun Luar Negri seperti Makkah, Madinah, Mesir, Baghdad, Cina dsb. 5. MERINTIS PESANTREN Selama perjalanan musafir yang lamanya 21 Tahun yang diawali dari tahun 1978 sampai tahun 1998, lalu sampailah beliau di Ampel Denta Surabaya dan beliau menikahi seorang wanita yang berasal dari Madura bernama Ibu Nyai Hj. Hafijah. Kemudian pada Tanggal 09 Januari 1999, beliau mendirikan Pesantren kecil dan diberi nama Pesantren “BENGKEL UNIQ TOMBO ATI”yang lebih di kenal dengan sebutan THE BENK UNIQ yang dulu
diberi arti Universitas Qur’an dengan Logo berlafalkan Yasin, beliau tidak memungut biaya sepeserpun dari para santrinya. pada saat itu para santrinya terdiri dari kalangan musafir, orang melarat , Yatim Piatu dan orang gelandangan yang ingin memahami Al- Qur’an baik Tersurat, Tersirat ataupun Sirr. tetapi didalam masa pengajaran beliau kepada santri-santrinya banyak sekali fitnahan, Cacian
dan Hinaan, bahkan lebih ironisnya lagi semua masyarakat bersepakat ingin membakar dan menghancurkan Pesantren karena dianggap Pesantren sesat. Karena masyarakat melihat Para santrinya berpakaian Compang-camping dan amburadul seperti gelandangan dan tidak seperti gholibnya para santri di Pesantren- pesantren lain yang notabene selalu berpakaian rapi dan mengkaji Kitab-kitab kuning. Karana pada saat itu beliau masih mendidik ketauhidan yang bersikap sederhana dan bersahaja, sedangkan para santri di wajibkan membaca Al-Qur’an tiap pukul 10 malam dan di teruskan dengan Sholawatan dan
Sholat malam Berjamaah yang di akhiri dengan membaca surat Yasin sebanyak 41 kali. Singkat cerita dengan seiringnya waktu, walaupun banyak rintangannya, Ponpes kecil ini tetap berdiri tegak sehingga santrinya bertambah banyak hingga beliau mengontrak rumah-rumah untuk di jadikan tempat lembaga
pendidikan, kemudian Pondok Pesantren “BENGKEL UNIQ TOMBO ATI” diganti dengan Pondok Pesantren “UNIQ” yang mempunyai arti ULINNURIL ISLAMIL QOYYIDI ( Orang-orang yang mempunyai cahaya Islam yang Kokoh ). Pada tahun 2004 beliau memulai menerapkan pendidikan kitab kuning dengan metode Salafussolih yang tujuannya ingin mengangkat kembali ajaran Salafussolih di era Modern ini.
Untuk lebih jelasnya perjalanan hidup beliau beserta karomahnya, bisa dilihat dalam kitab TARJAMATUSYAIKH (Riwayat Hidup) KH. M. Abdul Ghufron.
0 Response to "BIOGRAFI KH.MUHAMMAD ABDUL GHUFRON ALBANTANI "
Post a Comment